Teringat Pak Kusakabe


Hiroshi Kusakabe. Jelas bukan nama budak Pontianak. Bukan juga biak Sambas. Ape age orang ahe (dayak). Bukan juga orang Indonesia. Pastilah orang Jepang. Ya, orang Jepang. Pak Kusakabe. Siapa dia? Dialah pentolan dari Indonesia Japan (IJ) REDD Project. Lembaga kerja sama Jepang-Indonesia untuk pembuatan dokumen REDD Kalbar. Output dari project ini, dokumen Forest Reference Emission Level (FREL) dan Strategi dan Rencana Aksi Provinsi (SRAP) REDD+ Kalbar. Dua dokumen penting yang menjadi “kitab suci” nya Kalbar dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan. Memang tidak sepenuhnya proyek ini menghasilkan dua dokumen penting itu. Ada sejumlah lembaga pemerintah daerah dan NGO ikut bergabung mewujudkannya. Namun, IJ REDD adalah fasilitator utama. Di balik IJ REDD itu tak lain adalah Pak Kusakabe. Setiap ada rapat Pokja REDD+, Pak Kusakabe selalu ada.

Tiba-tiba saja ingat dengan my friend Pak Kusakabe. Mungkin rindu kali ya. Maklum banyak kesan selama bersahabat dengan warga dari negeri matahari terbit itu. Walau bahasa Indonesianya terbata-bata, tapi bisa paham kalau diajak ngobrol. Walau bahasa Inggris saya terbata-bata, ia juga paham. Cuma, ampun kalau diajak ngomong Jepang. Hanya tahu, arigatogosamas.


Pak Kusakabe satu-satu orang Jepang yang pernah saya kenal. Kenal dia karena tergabung di Pokja. Tak tahu ceritanya, tiba-tiba akrab begitu saja. Cerita berkesan dari Pak Kusakabe saat saya minta menjadi narasumber sebuah seminar di UNU Kalbar. Dengan harapan bisa mengajak mahasiswa saya aktif  berbahasa Inggris. Pak Kusakabe tak menolak. Malah senang walau tanpa dibayar alias lillahita’ala. Alhamdulillah, beliau sukses menjadi narasumber. Senang rasanya.

Dari situ, saya dan beliau makin akrab. Sesekali ia numpang mobil saya. Minta antarkan ke hotel tempatnya nginap. Selama di Pontianak, Pak Kusakabe selalu nginap di hotel. Mau nginap di kos, ada persyaratan yang mesti dipenuhi. Maklum orang asing.

Usai rapat, ia biasa ngajak makan siang. Tapi, tempat makan saya yang pilih. Pernah saya bawa ke Wong Solo. Saya ingin ngajak ia makan pecel lele. Kira-kira mau ndak makannya. Eh, ternyata ia makan sangat lahap. Menariknya, ia tak menggunakan sendok garpu, ngikut saya gunakan serampang lima alias lima jari. Licin tu piring. Lidahnya semakin akrab dengan masakan lokal. Pernah juga saya bawa ke restoran Pak Usu Jalan Sumatra. Saya ajak makan ikan nila goreng. Eh, licin juga tu piring. Cerita makan, Pak Kusakabe tak ada nolak masakan khas kita.

Suatu hari, saya ajak ia ngobrol lepas. Soal keluarga. Pak Kusakabe punya satu istri dan dua anak. Ia harus bolak-balik Pontianak-Jakarta. Istri dan anaknya tinggal di Jakarta. Setiap libur, ia pasti ke Jakarta. Temu anak bini. Kangen plus setoran kali ya, hehehe. Kedua anaknya sekolah khusus untuk orang Jepang di Jakarta. Istrinya juga bekerja. Cuma, saya lupa kerja apa.

Sepengetahuan saya orang Jepang itu beragama shinto. Penyembah matahari terbit. Saya tanyakan soal ini. Ia membenarkan. Seperti apa ia mengamalkan ajaran shinto dalam kehidupan sehari-hari. Dari orang tuanya, dalam menanamkan ajaran agama, ia dibawa ke kuil. Begitu juga pada anak-anaknya. Bila ada waktu ia bawa ke kuil shinto di Jepang. Tapi, jarang ia melakukannya. Budi pekerti yang didapat kebanyakan dari pendidikan di sekolah. Termasuk soal kedisiplinan menjadi prilaku penting ditanamkan sejak usia dini. Selama dengan dia, tak pernah saya melihat sembahyang atau berdoa. Misal mau makan, atau melakukan sesuatu.

Soal disiplin, benarkah benar-benar diamalkan orang Jepang. Pernah ada rapat Pokja di Hotel Kini. Jadwal rapat pukul 08.00. Mendekati pukul 08.00, Pak Kusakabe belum juga muncul. Info dari Syamsul, ia masih dalam perjalanan dari Jakarta. Mungkin sebentar lagi tiba. Benar, mendekati jadwal rapat, ia muncul dengan napas terengah-engah. Baru saja ia naik tangga dengan berlari. Rupanya takut terlambat.

Teliti. Kebetulan saya di Pokja tukang edit. Kadang saya geleng-geleng kepala. Tulisan yang sudah diedit, tapi tetap masih ada ditemukan salah ketik. Pak Kusakabe lah yang sering menemukan kesalahan itu. Ia benar-benar baca satu per satu kata di setiap alinea.

Tak pernah marah. Selama berteman dengannya, belum pernah saya lihat ia bermuka masam, apalagi mengeluarkan kata kasar. Lebih banyak tersenyum. Asyik dah pokoknya. Kadang budak-budak nyakatnya, mau cari istri baru di Pontianak, boleh kami carikan. Pasti ia tertawa lebar.

Tak tegaan. Pernah saat sedang meng-layout di kantor IJ-REDD di Dinas Kehutanan Kalbar, ada orang menjajakan makanan ringan. Kayak rengginang gitulah. Orang itu tawarkan dan ia beli untuk dimakan bersama. Tapi, makanan itu justru tak dimakan. Tergeletak di atas meja. Minggu depannya, orang itu datang lagi menawarkan makanan yang sama. Ia beli lagi. Padahal, makanan yang sama masih ada. Ia tak tegaan. Saya terkesan. Mungkin niatnya untuk menolong agar dagangan orang itu laku.

Untuk sementara, itulah cerita bersama Pak Kusakabe yang sekarang sudah kembali ke tanah kelahirannya. Ingin rasanya ke Jepang, ngajaknya ngopi. Sayang, Tuhan belum ngizinkan. Bila ada waktu, saya akan sambung lagi cerita ini.

Bagaimanapun, Pak Kusakabe sangat berjasa besar bagi keberlangsungan program REDD+ di Kalbar. Dokumen yang telah dihasilkan menjadi salah satu referensi utama. *


0 Response to "Teringat Pak Kusakabe"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel